Darurat Odol Menjalar ke Jatim
'IB' Perlu Jadi Contoh
BARAK, (Jatim)- Kendaraan perusak jalan umum, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Over Dimension Over Load (Odol) rupanya tidak hanya berkeliaran di jalanan Pulau Sumatera dan Kalimantan, tapi Pulau Jawa pun seakan dijadikan sebagai sentra operasionalnya.
Di Jawa Timur (Jatim) misalnya, kendaraan Odol berseliweran bak gajah-gajah dikebun binatang. Hal itu setidaknya terlihat di ruas jalan Pantura (Deandles- red) Lohgung-Sadang-Gresik.
Satker Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah IV dibawah Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jatim-Bali pun harus berjuang keras menangani setiap kerusakan yang muncul.
Gilasan roda kendaraan bermuatan jauh melebihi kemampuan Muatan Sumbu Terberat (MST) jalan selalu menimbulkan kerusakan dari mulai bergelombang hingga berlubang.
Tak hanya di Jatim, diberbagai wilayah Indonesia, penyelenggara jalan rerata mengalami kesulitan menyiasati ketersediaan anggaran untuk menangani setiap kerusakan yang timbul, sebab anggaran yang dibutuhkan tidaklah sedikit, lantaran setiap hari harus memelihara kondisi jalan agar tidak membahayakan masyarakat pengguna jalan lainnya.
Odol Sumsel
Sebelumnya, kendaraan Odol yang berkeliaran dijalan umum pulau Sumatera, seperti di Lampung dan Sumatera Selatan (Sumsel) rerata didominasi oleh angkutan Batu Bara, baik dari kegiatan pertambangan yang legal maupun illegal.
Jika di Lampung hanya menerima imbas dari kegiatan pertambangan Batu Bara yang berasal dari wilayah Sumsel, namun lain ceritanya dengan Sumsel.
Dari informasi dan data yang berhasil dihimpun redaksi barak-indo, kendaraan Odol yang berseliweran setiap saat, terutama pada malam hari mulai dari jalan nasional Batas Kota Lahat-Muara Enim menuju Muara Enim-Simpang Sugihwaras-Baturaja-Martapura hingga Batas Provinsi Lampung, disinyalir berasal dari kegiatan pertambangan Bomba Group milik salah seorang Utusan Khusus Presiden Prabowo berinisial 'IB'.
Data BBPJN Sumsel menunjukkan, dari umur rencana jalan dengan MST 8-10 ton, rerata tidak tercapai, karena dilintasi kendaraan Odol yang rerata bermuatan 40 ton.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, selain harapan penindakan yang dilakukan aparat terkait, Kepolisian dan Kemenhub, muncul pula usulan agar para pengusaha angkutan menambah gardan minimal 4 sumbu, agar beban muatan 40 ton terbagi masing-masing 10 ton tiap sumbu gardannya.
Odol Kaltim
Meskipun sedikit berbeda, namun kendaraan Odol di Kalimantan Timur (Kaltim) tetap saja membuat BBPJN Kaltim dan jajaran keteteran menghadapinya.
Di Kaltim, perusahaan pertambangan yang memiliki andil paling besar dalam "merusak" jalan nasional memiliki sedikit tanggungjawab.
PT Mantimin Coal Mining (PT MCM) menyatakan siap bertanggungjawab memperbaiki kerusakan jalan yang ada. Hal itu disampaikan kepada BBPJN Kaltim yang "menuntut" perusahaan tersebut bertanggungjawab.
Berbeda Tapi Serupa
Meskipun disetiap daerah kasusnya agak berbeda, tapi operasional kendaraan Odol sama-sama merusak jalan dan membahayakan nyawah masyarakat pengendara lainnya.
Di Sumsel misalnya, pemilik Bomba Group 'IB' yang kini telah resmi dilantik menjadi Utusan Khusus Presiden Bidang Ekonomi, diharapkan bisa menempatkan diri dan kegiatan usahanya sebagai contoh bagi para pelaku usaha pertambangan lainnya.
'IB' mestinya mampu menempatkan diri dan kegiatan usahanya sebagai penopang pertumbuhan ekonomi nasional, dan tidak lagi merugikan keuangan negara sekaligus menyengsarakan masyarakat pengguna jalan.
Dengan posisi yang di emban-nya saat ini, 'IB' sejatinya bisa mengambil contoh dari PT MCM di Kaltim, merangkul semua pihak yang terindikasi turut andil "merusak" jalan nasional untuk bersama-sama bertanggungjawab memelihara dan memperbaikinya.
Sebab jika saja hal itu tidak dilakukan, maka bukan tidak mungkin publik akan berpandangan, bahwa 'IB' tidak amanah memegang tanggungjawab sebagai Utusan Khusus Presiden, terlebih yang dipegangnya adalah Bidang Ekonomi.* (Barak)






Komentar
Posting Komentar