Malangnya Nasib Masyarakat Penghasil Damar
IJD Entah Kemana
SETIAP hari masyarakat dipaksa berjibaku dengan jalan setapak, lantaran akses menuju desa mereka sudah tertutup tanah bebatuan, bahkan sudah ditumbuhi rerumputan liar.
Adalah warga Desa Hakuanakota di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Provinsi Maluku. Sejak tahun 1950-an, warga desa ini rerata berprofesi sebagai penghasil damar. Namun mirisnya, hingga kini masih dipaksa berjibaku dengan jalan setapak akibat ketiadaan infrastruktur jalan.
Nasib serupa juga dialami oleh masyarakat Desa Rambatu, Rumberu, dan Manusa. Kemudian dibagian utara pulau Seram, ada pula Desa Riring, Buria, Laturake. Semua desa-desa ini hingga kini belum memiliki akses jalan yang memadai.
Untuk menuju Desa Hakuanakota, Hunitetu, Rambatu dan Manusa, jangankan menggunakan kendaraan roda empat, roda dua saja hampir mustahil.
Yacob Nauly, salah seorang wartawan utama Dewan Pers, dalam tulisannya di suarakarya.id, Kamis (21/11/2024), melihat adanya peluang akses menuju desa-desa penghasil damar itu menjadi jalan nasional, mengingat desa-desa tersebut merupakan salah satu sentra penghasil damar skala nasional.
Desa Hakuanakota sendiri hanya berjarak sekitar 8 Km dari pusat Kota Kecamatan Inamosol. Hanya saja jarak itu menjadi tantangan berat bagi setiap warganya, lantaran harus melewati jalan yang masih berupa tanah liat, terlebih pada musim penghujan, hampir tidak mungkin warganya bisa keluar kampung.
Derita yang dialami warga tidak hanya terbatas pada ketiadaan infrastruktur jalan, namun harga bahan pokok juga sangat mahal. Hal itu disebabkan ketiadaan akses jalan. Untuk mengantar barang belanjaan, warga harus rela mengeluarkan biaya antara Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. Itupun belum termasuk ongkos ojek bagi pemilik belanjaan.
Seperti diketahui, damar hasil produksi warga SBB sudah sejak lama masuk ke pasar ekspor. Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi bangsa ini, namun tidak bagi warga yang dimarginalkan.
Kemana IJD...?
Sejak TA 2023 lalu, pemerintah pusat sudah menggulirkan program Inpres Jalan Daerah (IJD).
IJD sendiri bertujuan mempercepat konektivitas antara jalan nasional dengan jalan daerah. Setiap jalan dari dan menuju sentra-sentra produksi menjadi sasaran utama untuk dibangun oleh pusat, lantaran daerah memiliki keterbatasan anggaran untuk membangunnya sendiri.
Namun sayangnya, program IJD pun tak sampai menyentuh pada sentra penghasil damar di Kab SBB. Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Maluku yang diharapkan bisa membantu, seakan tak bisa diharapkan oleh masyarakat. Ironi.***


Komentar
Posting Komentar