Inspektorat Diminta Audit Khusus Pemeliharaan Jalan Nasional di Bengkulu


BARAK, (Bengkulu)- Ketegasan Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menonaktifkan enam pejabat utama dibawahnya, dinilai membawa harapan baru bagi penataan organisasi, sekaligus peningkatan kualitas kinerja.

Begitu pula kepada Maulidya Indah Junica, Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian PU yang baru dilantik Menteri Dody pada 04 Juli 2025 kemarin. Publik menaruh harapan besar terhadap Maulidya, dapat meminimalisir terjadinya kecurangan dalam penyelenggaraan keuangan negara dibawah pengawasannya.

Seperti halnya penggunaan keuangan negara pada pemeliharaan jalan nasional di Desa Air Melas Atas, Kecamatan Selupu, Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu.

"Kami harap Irjen yang baru benar-benar menerapkan sistem kerja yang profesional. Jangan sampai ada lagi pekerjaan yang sudah di audit Inspektorat kemudian jadi temuan aparat hukum."

"Turunkan tim untuk melakukan audit khusus atas pekerjaan di Bengkulu. Tunjukkan kinerja seperti yang diharapkan Menteri saat dilantik jadi Irjen" 

Demikian diungkapkan Koordinator Divisi Investigasi dan Pelaporan Barak, M Deddy H kepada redaksi barak-indo, Selasa (22/07/2025).

Ia meminta Irjen untuk membuktikan pengakuan pelaksanaan proyek preservasi jalan nasional di Desa Air Meles Atas, bahwa drum-drum asphalt dan sisa material yang ditemukan warga disana bukanlah sisa produksi asphalt hotmix untuk pemeliharaan jalan nasional.


Deddy memastikan Itsus punya kemampuan untuk membuktikan, agar tidak ada uang negara yang terbuang percuma untuk pekerjaan yang sia-sia.

"Kerusakan selalu berulang pada titik-titik yang sama walaupun perbaikan baru dilakukan. Itu indikasi yang cukup untuk menjadi dasar dilakukan audit khusus," tegasnya.

Sebelumnya di informasikan, jalan nasional di Desa Air Meles Atas kerap mengalami kerusakan meskipun perbaikan baru dilakukan. Hal itu diduga akibat perbaikan tidak menggunakan AMP standar, melainkan hasil produksi secara mandiri.

Belakangan warga mendapati tumpukan drum bekas aspal dan sisa material lainnya disekitar lokasi kerja. Hal itu semakin menguatkan dugaan, bahwa asphalt yang digunakan merupakan hasil produksi dadakan secara mandiri.

Sementara pihak pelaksana, Jumadi, mengaku material yang ditemukan warga merupakan sisa dari proyek lain yang tidak terkait dengan proyek jalan nasional di Desa Air Meles Atas.

"Kami menggunakan hotmix dari Selamet Group. Kami tidak memproduksinya secara mandiri. Material yang ditemukan dilokasi merupakan sisa proyek terdahulu," ungkapnya.

Hingga berita ini tayang, redaksi barak-indo masih berharap bisa memperoleh klarifikasi dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Bengkulu dan jajaran Satker/PPK terkait.* (Barak)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mutasi 520 Pejabat PU Patut Dievaluasi

Menteri PU Diminta Berani Batalkan SK Mutasi Istimewa

PPK 1.1 Jabar Tutup Lubang Pakai TCM