Otak Rusuh Vs Lusuh
Catatan Redaksi
USAI memulihkan situasi Ibu Kota dari aksi damai yang berbuntut pada kerusuhan bahkan sampai terjadi penjarahan dibeberapa rumah pribadi, aparat mulai bersuara lantang menduga-duga siapa sebenarnya otak kerusuhan.
Saat otak masih lusuh usai mengurai simpul yang kusut, berbagai spekulasi pun muncul, bahkan sampai menuding mafia migas yang tengah jadi buronan kasus korupsi sebagai otak rusuh.
Sebelumnya, bahkan ada yang berdiri tegak menyebutkan aksi-aksi yang berlangsung sepanjang akhir Agustus 2025 itu disusupi kekuatan asing yang berniat mengacaukan keamanan dalam negeri.
Bagi beberapa pihak yang menyimak situasi sejak awal kerusuhan berlangsung, keterlibatan para pihak yang dituduhkan tersebut mungkin saja ada.
Tapi, kenapa harus selalu mencari ke luar...? Sebegitu tidak mungkinkah pihak-pihak yang berada didalam lingkaran pemerintahan jika seandainya melibatkan diri sebagai dalang dari belakang layar...?
Sebab, sekecil apapun kemungkinannya, mestinya bisa juga dipertimbangkan untuk mengantisipasi terulangnya kejadian yang sama dikemudian hari.
Begitupun jika keterlibatan pihak asing benar ada dengan menggerakkan kaki-tangannya di dalam negeri, maka kinerja intelijen dalam negeri patut dipertanyakan...!
Lebih-lebih jika terduga mafia migas yang punya ulah, maka bisa dipastikan kinerja intelijen negara ini sangat lemah. Bagaimana mungkin seseorang yang sedang menjadi buronan negara, tetiba mampu menggelontorkan uang dalam jumlah besar untuk menggerakkan masa rusuh...? Terlebih lagi jika dia sedang berada diluar negeri...! Sebegitu lemahkah PPATK, sehingga tidak dapat mendeteksi perputaran uang jumlah besar dalam waktu singkat...? Atau jangan-jangan PPATK hanya mampu berperan sebagai salah satu lembaga yang memancing kemarahan publik karena sembarangan memblokir rekening masyarakat...?
Intelijen...! Apa kabar...?
Begitu masifnya kerusuhan yang terjadi diberbagai kota, tidak mungkin lepas dari pantauan intelijen. Tidak pernah ada dalam sejarah, aksi demonstrasi dengan jumlah masa yang fantastis bisa tiba-tiba digelar tanpa adanya koordinasi dan konsolidasi yang terarah...!
Nampaknya figur-figur yang diberi kepercayaan untuk membantu Presiden Prabowo harus pandai memilah, agar tidak mudah menerima laporan yang menyesatkan. Sebab, kalau intelijen negara ini benar-benar bekerja untuk mengamankan negara sekaligus melindungi hak-hak dasar rakyat sipil, mestinya kerusuhan bisa dicegah.
Dimana keberadaan tokoh-tokoh yang sesekali tampil garang didepan layar, dan bahkan tak segan-segan melontarkan suara bernada provokatif...? Bukankah mereka tengah menikmati berbagai fasilitas negara di dalam tubuh pemerintahan...? Apa yang mereka lakukan saat kerusuhan tengah melanda berbagai wilayah...?
Sampai hari ini mereka masih diam...! Entah sedang memasang strategi muncul pada saat yang tepat, agar bisa memetik keuntungan dari keringat orang yang iklas bangun negeri, atau bisa juga takut terjebak dalam "games" rancangannya sendiri...!
Tak ada salahnya jika mencari dalang tidak hanya kearah luar. Sebab, jika saja dalang dari semua yang terjadi justeru berasal dari dalam lingkaran, maka itulah yang paling berbahaya.
"Perang melawan penjajah jauh lebih mudah, ketimbang melawan penghianat bangsa sendiri."
Soal pembagian paket sembako kepada para Ojol disalah satu daerah saat aksi protes Ojol didaerah lain menggema juga patut disimak...! Apakah itu murni tentang berbagi, atau salah satu strategi menenteramkan adrenalin masa...!
Hal seperti itu juga mestinya masuk kajian intelijen, terutama motifnya. Paling tidak, berapa lama waktu yang diperlukan untuk menyiapkan paket sembako sebanyak itu...? Jangan-jangan sudah disiapkan jauh-jauh hari...?
1.200-an warga negara yang ditangkap karena diduga menjadi pelaku kerusuhan, belum tentu semuanya bersalah. Mungkin saja benar ada yang rusuh karena disuruh atau dibayar, tapi bagaimana dengan aparat yang menggunakan kekuatan berlebih, berapa banyak yang ditangkap dan diminta pertanggungjawaban...? Apakah aparat berprilaku provokatif selama mengamankan jalannya aksi...? Ini juga pertanyaan.
Tapi bagaimanapun, kerusuhan yang terjadi belakangan ini, merupakan bukti lemahnya kinerja intelijen negara dengan deteksi dininya, terutama dari sisi pencegahan.
Meski demikian, jika ada yang menyebut kerusuhan belakangan ini sebagai upaya penggulingan Presiden, sepertinya jauh panggang dari api. Tapi kalau hanya sekedar akrobat unjuk gigi, itu bisa saja terjadi. Mungkin saja ada yang merasa hampir tenggelam, lalu membangun skenario lewat drama pendek untuk menunjukkan kekuatan.
Sampai disini, ada baiknya sejenak istrahat untuk memulihkan otak yang lusuh, agar tak mencakar ke segala arah. Salah-salah yang tidak bersalah pun disalah-salahkan.***

Komentar
Posting Komentar