BPJN NTT Tangani Longsoran Ruas Oenaek-Saenam-Nunpo
BARAK, (NTT)- Sejak beberapa tahun terakhir, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Nusa Tenggara Timur (NTT) terus menunjukkan kinerja terbaik. Hal itu setidaknya terlihat dari penanganan longsoran yang terjadi pada ruas jalan nasional Oenak-Saenan-Nunpo (Huameniana).
Diketahui, sejak pertengahan Desember 2024 hingga Januari 2025, ruas jalan tersebut mengalami longsor disejumlah titik.
Tak ingin longsoran semakin meluas hingga mengganggu kelancaran arus orang, barang dan jasa, Balai pun langsung memerintahkan jajarannya segera mengambil tindakan, terutama untuk menyingkirkan material longsoran yang menutupi badan jalan.
Semula area longsor hanya terdeteksi dibeberapa lokasi saja, namun curah hujan tinggi kembali menyebabkan longsor susulan.
Area longsor setidaknya terdapat di Km 46+000 dengan luasan longsoran 32 meter, STA 51+550 sepanjang 40 meter, STA 55+125 48 meter, STA 56+100 35 meter, STA 57+050 51 meter, STA 67+000 65 meter, STA 49+300 25 meter, STA 49+400 30 meter, STA 49+800 20 meter, STA 53+800 30 meter, dan pada STA 64+200 sepanjang 15 meter.
Kepala BPJN NTT, Agustinus Junianto, dalam keterangan resminya, Jum'at (31/01/2025) menjelaskan, lokasi longsor memang titik yang semula terdeteksi rawan terjadinya longsoran, seperti area bahu jalan pada STA 51+550, STA 55+125 dan STA 57+050 yang terdapat jurang terjal.
"Begitu pula dengan badan jalan pada area STA 46+000 dan 56+100. Dilokasi itu terjadi keretakan parah pada badan jalan yang pada bagian sisinya terdapat tebing dan jurang yang terjal. Area tersebut memang rawan longsor," ujarnya.
Namun khusus di STA 67+000, lanjutnya, area tersebut memang menjadi titik rawan longsor, karena dibagian lerengnya terdapat aliran sungai yang menyebabkan erosi hingga mengakibatkan longsor pada bahu dan tebing jalan.
"Untuk mengantisipasi longsoran berulang, dalam proses pembangunan jalan Oenaek-Saenam-Nunpo, kami telah menerapkan pekerjaan sebagai proteksi dengan pemasangan DPT pasangan batu dan bronjong pada bagian tebing dan lereng bahu jalan yang rawan longsor," ungkapnya.
Namun lantaran dalam beberapa waktu belakangan ini curah hujannya cukup tinggi, jelasnya, maka terjadi lagi longsor susulan yang membuat bahu jalan mengalami penurunan kembali.
"Sampai kemarin (Kamis, 30 Januari 2025), curah hujan masih tinggi hingga menyebabkan terjadinya longsor susulan," katanya.
Longsor, tambahnya, menyebabkan tanah pada area bahu (tebing- red) kembali mengalami penurunan.
"Setidaknya terdapat 5 (lima) titik longsoran baru seperti di STA 49+300 sepanjang 25 meter, STA 49+400 sepanjang 30 meter, STA 49+800 20 meter, STA 52+800 30 meter, dan di STA 64+200 sepanjang 15 meter," ucapnya.
Berbagai upaya pun terus dilakukan untuk mengatasi semua persoalan yang muncul (longsoran- red), seperti penimbunan kembali bahu jalan yang mengalami penurunan, pemasangan batu dan bronjong untuk memotong bidang gelincir sekaligus pengendalian air pada bagian permukaan, pemasangan police line dan rambu-rambu peringatan agar masyarakat dapat berhati-hati saat melintas.
"Pada bagian jalan yang mengalami keretakan pun sudah ditutup menggunakan aspal emulsi. Dan sudah pula dilakukan proteksi menggunakan cerucuk bambu untuk memotong bidang gelincir dan pengendalian air permukaan," tandasnya.
Ia pun memastikan, pihaknya menyiagakan personil dan alat berat pada lokasi-lokasi rawan longsor, untuk memastikan arus lalu lintas tidak sampai terganggu dalam waktu yang lama.* (Barak)





Komentar
Posting Komentar