Derita Warga Kaltara Melintas di Jalan Nasional Berlumpur
Mobil Pengantar Jenazah Terperosok
BARAK, (Kaltara)- Meski berstatus jalan nasional dan menjadi kewenangan pemerintah pusat, tak lantas membuat infrastruktur dasar rakyat selalu berada dalam kondisi layak.
Faktanya, masih ada rakyat dikawasan perbatasan yang menjadi garda terdepan menjaga kedaulatan bangsanya, setiap hari harus rela berjibaku dengan jalanan berlumpur dalam menjalani aktivitas keseharian.
Arti kemerdekaan pun baru sebatas dipahami oleh masyarakat Kabupaten Nunukan yang berbatasan langsung dengan Malaysia sebagai manusia yang bebas dari penjajahan bangsa lain, namun belum merasakan buah pembangunan yang layak sejak pekik kemerdekaan di kumandangkan.
Akses yang terbuka pun baru sebatas jalan tanah yang berlumpur dan sangat sulit dilintasi. Padahal jalur tersebut menjadi akses utama menuju Krayan Tengah hingga perbatasan negara tetangga, Malaysia.
Kejadian menyedihkan menimpa warga saat mengangkut jenazah. Kendaraan pengangkut jenazahnya terperosok dalam jalan berlumpur, dan baru bisa keluar setelah warga ramai-ramai membantu mendorong dan menariknya menggunakan tali tambang.
Merasa kesulitan menjalani kehidupan tanpa adanya infrastruktur jalan yang layak, salah seorang warga Krayan Timur, Martinus Baru mengungkapkan kesedihannya.
"Dari dulu jalan didaerah kami seperti ini. Walaupun masuk kategori jalan nasional, namun tak pernah di aspal, kondisinya berantakan," ungkapnya.
Ia menjelaskan, kekecewaan warga pun semakin menjadi saat mobil pengangkut jenazah terperosok kedalam jalan berkubang dan berlumpur.
"Kendaraan harusnya bisa menempuh perjalanan dalam waktu satu jam menuju rumah duka. Tapi karena harus melintas dijalanan berlumpur, waktu tempuh jadi jauh lebih lama. Itu pun kendaraan baru bisa melintas setelah warga ramai-ramai membantu mendorong dan menariknya menggunakan tali tambang. Jalannya benar-benar hancur," sesalnya.
Setiap melintas, katanya, warga harus rela gotong-royong menyusun papan kayu menyerupai rel kereta, agar roda kendaraan dapat melintas diatas jalanan berlumpur.
Keadaan hingga saat ini, lanjutnya, benar-benar membuat warga menderita, seperti ketika ada pasien yang harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Ketiadaan akses jalan yang memadai, memaksa warga membawa pasien menggunakan pesawat carteran dengan biaya sekitar Rp 50 juta sekali jalan.
Martinus pun mengungkapkan kekecewaannya, karena meskipun hidup di daerah yang menjadi pemasok kekayaan sumber daya alam berlimpah, namun tak lantas membuat warganya menikmati hasil pembangunan yang layak.
"Kita sudah puluhan tahun merdeka, tapi jalan masih berupa tanah seperti ini. Rakyat belum merasakan buah pembangunan meskipun daerahnya menjadi penyumbang kekayaan sumber daya alam berlimpah. Ini tidak adil," ujarnya dilansir prokal, Selasa (09/12/2025) kemarin.
Ia menambahkan, di daerahnya masih ada sekitar 50 Km jalan nasional yang belum di aspal, dan masih berupa jalan tanah yang berlumpur.* (Barak)

Komentar
Posting Komentar