Kinerja BPJN Sulteng Melemah, Jalan Rusak Tak Ada Rambu

Bagian Protes Efisiensi Anggaran-kah...?

Catatan Redaksi


SEMAKIN hari, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah (Sulteng) dan jajaran terus memperlihatkan kinerja yang menurun drastis.

Hal itu membuat kondisi jalan nasional kian memperihatinkan, dan sangat membahayakan keselamatan masyarakat pengendara.

Kondisi miris ini setidaknya tergambar dari penyelenggaraan jalan nasional di Kabupaten Boul. Jangankan penanganan sementara ataupun pemeliharaan rutin, sekedar pemasangan rambu-rambu peringatan pun tak nampak dilakukan.

Pada beberapa lokasi kerusakan krusial, tak ada rambu peringatan yang terlihat dipasang. Hanya ada ranting dan batang pohon sebagai penanda, yang sepertinya inisiatif dari masyarakat sekitar ataupun pengendara yang melintas.

Lalu apakah ini imbas dari efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintahan Prabowo-Gibran...?

Sepertinya tidak juga. Sebab seluruh ruas jalan nasional selindo telah dialokasikan anggaran walaupun sekedar untuk pemeliharaan rutin (preservasi)...!

Kemudian apakah ini bagian dari cara Balai, Satker dan PPK "menggelar" protes terhadap kebijakan efisiensi anggaran...?

Jawabannya ada pada Kepala Balai, Kepala Satker dan PPK terkait...! Yang pasti, sekedar rambu peringatan yang mestinya wajib dipasang pada setiap lokasi kerusakan saja tak nampak.

Pertanyaan, sebegitu mahalkah biaya pembuatan dan pemasangan rambu peringatan...?

Tentu saja tidak. Karena rata-rata rambu peringatan terbuat dari bahan spanduk/banner yang harganya berkisar antara Rp 25.000,+ hingga Rp 30.000,- per meter persegi.

Fenomena ini sepertinya perlu segera diatasi oleh Direktorat Jenderal Bina Marga (DJBM) Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Dirjen BM selaku pengambil kebijakan tertinggi dilingkungan DJBM, nampaknya perlu segera memanggil Kepala Balai, Kepala Satker dan PPK terkait, agar diketahui apa motif dibalik terabaikannya ruas jalan nasional di Boul.

Jika memang ini bagian dari protes terhadap efisiensi anggaran, maka bukan tidak mungkin protes yang sama akan menjalar ke daerah-daerah lainnya, dan nantinya pasti berujung pada "dihujatnya" pemerintahan Prabowo-Gibran, karena dinilai tidak sanggup menyediakan layanan infrastruktur dasar bagi rakyat.***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mutasi 520 Pejabat PU Patut Dievaluasi

Komitmen DJBM Kementerian PU Hadirkan Layanan Infrastruktur Andal Selama Mudik Idul Fitri 1447 H/ 2026

Bedah Kasus "Mundur-Paksa" Dirjen CK & SDA Kementerian PU